![]() |
| Ir. Sukarno (Ist.) |
SULUHMARHAEN - Soekarno lahir dengan nama lengkap Koesno Sosrodihardjo pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur. Bung Karno menceritakan dalam biografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (cetakan pertama 1965 yang diterbitkan oleh The Bobbs-Merril Company, Inc.), dirinya dilahirkan tanpa pertolongan dokter atau tenaga kesehatan resmi. Bahkan tanpa bantuan dukun beranak.
Bapak tidak mampu memanggil dukun untuk menolong anak yang akan lahir. Keadaan kami terlalu ketiadaan. Satu‐satunya orang yang menghadapi ibu ialah seorang kawan dari keluarga kami, seorang kakek yang sudah terlalu amat tua. Dialah, dan tak ada orang lain selain dari orang tua itu, yang menyambutku menginjak dunia ini,” kenang Bung Karno.
“Ketika saya masih kecil, mungkin ketika berumur dua tahun, Ibu mengucapkan doa berkat kepada saya. Dia bangun sebelum matahari terbit dan duduk dengan diam dalam gelap di beranda rumah kecil kami, tidak melakukan apa-apa, tidak mengatakan apa-apa, hanya melihat ke arah Timur dan dengan sabar menyaksikan matahari terbit,” kisah Bung Karno.
Bung Karno bercerita, suatu kali ibunya duduk di beranda menatap matahari yang mulai menyingsing. Ia mendekat dan turut menyaksikan terbitnya sang mentari.
Lalu sang Bunda memeluknya. Suara lembut sang Bunda terdengar oleh Soekarno berkata, “Anakku, kamu sekarang sedang menyaksikan matahari yang mulai terbit. Dan kamu, anakku, akan menjadi manusia yang penuh kemuliaan, pemimpin rakyat, karena ibumu melahirkanmu pada saat fajar menyingsing. Kita orang Jawa percaya dia yang dilahirkan pada saat fajar menyingsing memiliki takdir. Kamu adalah Putra Fajar.”
Bung Karno lahir di pembukaan abad ke-20. Saat itu, zaman sedang berganti-rupa. Tatanan dunia lama, yakni kapitalisme dan kolonialisme sedang digugat. Di negara kapitalis maju, kaum pekerja dan perempuan sedang memperjuangkan emansipasi. Sementara bangsa terjajah mulai lahir ide dan cita-cita baru: nasionalisme. Gerakan kemerdekaan mulai pasang untuk membebaskan diri dari zaman gelap kolonialisme. Abad 20 juga ditandai dengan lompatan maju ilmu pengetahuan, makanya disebut “Abad Atom” atau “Abad Ruang Angkasa”. Sukarno dilahirkan dan dibesarkan di konteks zaman itu.
Sukarno sendiri mengaku lahir pada 6 Juni 1901. Hal ini terungkap dalam biografi Bung Karno yang ditulis Cindy Adams, Soekarno Penyambung Lidah Rakyat. Di situ beliau bilang, “Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal enam, bulan enam.” Dia juga bilang, “karena aku dilahirkan di tahun 1901.”
![]() |
| Rumah kelahiran Presiden Sukarno di Gang Pandean IV di Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur. (Foto: kompas.id) |
![]() |
| Sukarno dan Cindy Adams |
Bung Karno menyebut dirinya lahir menjelang fajar. Kira-kira pukul 05.30 pagi. Karena itulah Sukarno sering mendapat panggilan “Putra Sang Fajar”.
Bersamaan dengan kelahiranku menyingsinglah fajar dari suatu hari yang baru dan menyingsing pulalah fajar dari satu abad yang baru,” kata Bung Karno.
Sukarno lahir pada tanggal 6 bulan 6 di bawah rasi bintang Gemini, simbol kembar. Sukarno percaya ia adalah perpaduan dua sifat kembar yang ekstrem. Di satu sisi ia bisa lembut, namun di sisi lain ia juga bisa ketus. Ia dapat keras seperti baja, namun ia juga puitis.
Kepribadian saya campuran antara akal dan emosi. Saya pemaaf tetapi saya juga penuntut. Saya memasukkan musuh negara ke dalam penjara, tetapi saya tidak tega melihat burung dalam sangkar,” kata Bung Karno.
Selamat hari lahir, "Putra Sang Fajar"..
Sumber: berdikarionline.com; nationalgeographic.grid.id; tirto.id


