Di Bawah Bendera Revolusi - Jilid II

 


Dibawah Bendera Revolusi adalah buku fenomenal yang menghimpun tulisan-tulisan Soekarno pada masa penjajahan Belanda (1917 – 1925) dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1959 oleh sebuah Panitia Penerbitan di bawah pimpinan H. Mualliff Nasution. Pada tahun 1963 buku monumental itu mengalami cetak ulang yang kedua dan hanya dalam waktu dua minggu sudah habis terjual. Tidak mengherankan setelah itu pencetakan kembali dilakukan setiap tahun. Terakhir kali, tahun 1965 buku itu untuk keempat kalinya dicetak ulang. Ini menunjukkan bahwa keinginan rakyat Indonesia untuk memiliki buku itu sangat besar. Pada tahun 1964, Panitia Penerbit Dibawah Bendera Revolusi juga menerbitkan jilid kedua buku tersebut yang memuat 20 pidato 17 Agustus yang disampaikan Soekarno kepada rakyat Indonesia dari tahun 1945 hingga 1964.

Menurut catatan penerbit, judul Dibawah Bendera Revolusi adalah judul yang dipilih oleh Soekarno sendiri, untuk menandai bahwa pemikiran-pemikiran itu lahir dalam kondisi Indonesia yang sedang menuju revolusi kemerdekaannya. Pada cetakan kedua tahun 1963 dan 1964, penerbit memberikan tambahan bahwa Dibawah Bendera Revolusi adalah suatu bukti bahwa segala kebijakan politik yang ditempuh Soekarno pada masa itu mempunyai pembenaran sejarah dalam pemikiran Soekarno muda. Gagasan koalisi Nasakom yang menggabungkan tiga kekuatan utama politik Indonesia, yaitu nasionalis, agama dan komunis, serta politik anti-imperialisme telah menjadi bahan pemikiran Soekarno jauh sebelum Indonesia merdeka.

Dalam buku Dibawah Bendera Revolusi jilid pertama, terdapat 61 tulisan Soekarno muda yang pernah dimuat dalam berbagai media cetak, seperti Suluh Indonesia Muda, Fikiran Ra’jat, Pandji Islam, dan Pemandangan. Tulisan Soekarno itu mencakup tema-tema agraria, strategi politik nasional, seruan terhadap kaum Marhaen, pandangan Soekarno tentang Islam, ulasan pemikiran tokoh dunia seperti Karl Marx dan Mahatma Gandhi, perkembangan politik dunia, hingga kritik dan komentarnya terhadap Mohammad Hatta yang kemudian mendampinginya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama